Monday, November 28, 2016

Sikap Dibalik Tragedi Demonstrasi

Marah ketika melihat quran ini dihina ini sudah bisa menjadi bagian dari iman karena kalau kita gak marah kita gak beriman, agama dihina Alquran dihina oleh orang yang gak paham quran. Jujur, kejadian seperti ini sudah terjadi bukan hanya 2016, sejak diutusnya manusia paling mulia diatas jagat raya ini Rosululloh Muhammad bin Abdillah sholallahu alaihi wasallam bahwa Alquran sudah dihina sejak jaman nabi, dan itu bukan hal yang mengherankan. kenapa? karena orang yang menghina ini orang kafir yang gak paham Alqur'an. Lihatlah bagaimana sikap nabi ketika Alqur'an dihina, ini telah Allah SWT kabarkan disekian banyak ayat, sehingga berbeda firqoh, berbeda manhaj berbeda mazhab tapi satu pemahaman kita " ولَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَة Telah ada suri tauladan yang baik pada diri Rosululloh Sholallohu alaihi wassalam, maka kita sepakat tidak perlu contoh lain kecuali beliau, sehingga ulama menyimpulkan bahwa semua telah beliau sampaikan bahkan semua sahabat menyaksikan علمكم نبيكم صلى الله عليه وسلم كل شيء حتى الخراءة bukankah kalian umat Muhammad Sholallahu alaihi wasallam yang telah mengajarkan segala sesuatu bahkan sampai cara buang hajatpun diajarkan, cuma islam yg mengajarkan kalau masuk wc kaki kiri baru kaki kanan, keluar kanan dulu baru kiri. Cuma islam yang mengajarkan kita baca ta'awudz اللهم إني أعوذ بك من الخبث والخبائث cuma di Islam saja kita tidak boleh menghadap membelakangi kiblat ketika buang hajat, agama lain gak ketemu. Kalau buang hajat diajarkan apalagi bicara jihad. Ini fenomena dimasyarakat sekarang banyak orang mengatas namakan jihad, demonstrasi adalah jihad , ana berlindung kepada الله seandainya salah dalam pemahaman tetapi sampai detik ini tidak pernah mendengar kalimat demonstrasi bagian dari kalimat islam. Kenapa kita berbangga dengan istilah yang bukan istilah islami. Kita gak berbangga dengan bahasa nasihat untuk ulul amri, sementara kalau sudah bicara pakai nasihat tidak semua orang berhak untuk menasihati kecuali orang yang berilmu kalau orang - orang yang berilmu memberi nasihat maka tegaklah hukum. الله bersumpah demi waktu bahwa semua manusia rugi kecuali yang beriman. Siapakah orang yang beriman? orang yang memberi nasihat kepada dalam hal yang baik maupun kesabaran. Karena janji الله وجعلنا منهم أئمة يهدون بأمرنا لما صبروا Allah akan jadikan kita seorang pemimpin ketika kita bersabar, sehingga bagaimana membuat masyarakat ini tetap sabar bukan malah membuat keanarkisan yang bertambah - tambah kita gak pingin yang seperti itu demi الله makanya kalaupun besok toh terjadi banyak orang demo mengatakan jihad demonstrasi kalau turun kejalan, saya menyikapinya adalah bukti bahwa marahnya rakyat, kalau sudah bicara marah tidak ada hukum dalam hal ini. Jangankan rakyat yang marah kepada pemerintah ketika terdzolimi bahkan anak pun yang mungkin merasa terdzolimi bisa marah sama ayahnya atau orangtuanya dan dia membentak orang tuanya. Tidak dikatakan anak ini benar tapi tidak dikatakan pula salah, mengapa karena lihat hukum sebab akibat apa yang membuat dia membentaknya itu yang perlu dipelajari. Sehingga ulama gak nimbrung dalam hal ini mengiyakan sesuatu yang tidak islami, harusnya mengistiqomahkan diri untuk menjadi orang - orang yang menasihati ulil amri tidak semua orang turun ke jalan karena khawatirnya ini bak bumerang yang di lempar akan berbalik kepada yang melempar. Seperti yang lampau kita lihat banyak dipertontonkan kritikan dari orang - orang non muslim bahwa berapa banyak orang - orang islam ini ketika waktu hari jumat berdemo banyak yang gak sholat jum'at, padahal saat ini kita gak menyalahkan mereka yang turun ke jalan dalam keadaan emosi, orang emosi apapun bisa terjadi, dikarenakan pemerintah lambat dalam menyikapi hal seperti ini, sehingga gak bisa disalahkan ketika orang yang terbatas ilmunya seperti ini, tapi kalau di mata islam apapun keadaannya dimata islam apapun keadaannya tidak akan pernah ada satu ulama pun yang shohih yang menerima kalimat demonstrasi bagian dari jihad , karena kalaupun memang demonstrasi ini baik para sahabat sudah melakukan dan gak ada yang melakukan ini tapi menasihati pemimpin sudah ada bukan tidak, kalaupun harus terjadi paling tidak diredam jangan sampai kejahilan meliputi apa yang mereka lakukan sampai perempuan turun kejalan, ya jangan. Sebanyak apapun perempuan turun ke jalan gak membuat gentar hati para lelaki, karena memang bukan disitu tempatnya jihad. Yang dikhawatirkan palah nanti selfi depan spanduk, ini kan berbahaya sekali. Jadi demi الله yuk kita belajar bangga apa yang di islam karena islam ajarkan semua, bicara komplain tentang kedzoliman ya iya islam ajarkan bukan tidak. Kedzoliman terjadi zaman rosul kedzaliman terjadi zaman sahabat, penindasan, pembantaian para sahabat pernah terjadi bukan tidak, dan islam agama yang mengajarkan kesempurnaan. الله sendiri yang mengatakan اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا Sempurna sudah agama dengan ayat ini sudah sempurna. Jadi kalau memang harus turun kejalan menuju tempat untuk mengislah pemimpin pemerintah dan lain sebagainya kalau bisa orang yang berilmu atau kalau memang sudah terlanjur pingin turun tolong berilmu jangan mempertontonkan hal yang sifatnya serampangan. Karena tidak ada kebaikan datang dengan cara yang diharamkan. Ya jangan pernah kita menghayalkan sesuatu yang baik datang dengan cara yang tidak baik, tidak akan pernah datang satu buah kebaikanpun dengan cara yang الله tidak ridhoi. Makanya bismillah apapun yang terjadi saya hanya berwasiat pada diri saya khususnya dan antum sekalian, berilmulah sebelum beramal ! supaya tidak menimbulkan mudhorot yang lebih besar. فإنَّ اللهَ تَعَاَلَى لا يُنَال مَاَ عِنْدَهُ إلاَّ بطَاَعَتِهِ Semua yang baik yang kita inginkan yang bangsa ini inginkan yang seluruh masyarakat muslim di negeri ini inginkan adanya di sisi الله . Dan semua yang di sisi الله ini tidak mungkin datang dengan cara yang الله murkai. Ayo أجْمَلَ فِي طَلَبِ perbagus cara meminta, dan الله janjikan kemuliaan, istiqomah dalam kesabaran dan stabilkan iman الله janji pemimpin mulia akan datang di negeri ini, sisanya jangan cuma menghilangkan asap matikan apinya, sebab kedzoliman terjadi ketika rosululloh sholallohu alaihi wasallam kabarkan kepada kita, respect dalam dada musuh kita hilang karena kita yang menghilangkan. Kalau cinta dunia sudah merebak di hati kita kalau seorang guru sudah pingin dipandang pandai oleh muridnya, kalau seorang pahlawan pingin dipandang sebagai orang yang berjasa, kalau orang yang bersedekah pingin dipandang orang yang dermawan, orang yang nenuntut ilmu pingin dibilang alim, orang yang baca qur'an pingin dibilang qori' fantadirisa'ah tunggu waktu kehancuran, maka manage emosi kita esok lihat sababnya, apa kata rosul masanya sudah dekat dulu masa rosul belum terjadi akan terjadi, orang diluar kalian akan menggiring kalian seperti menggiring ke meja makan, mudahnya orang islam digiring ke meja makan satu orang bisa mewakili seratus orang, liat satu orang non muslim bisa bikin geger Indonesia. Masya Allah, terjadi... Nabi hanya menyimpulkan bahwa الله ambil hati dari musuh kalian respect dari kalian sehingga adanya musuh membuat pelajaran buat kita, oh... iya ternyata banyak orang islam yang tidur selama ini. dulu tidak ada yang ngehint surah Al maidah ayat 51, sekarang tau ayat 51. sekarang semua tau bagaimana cara memilih pemimpin, ini hikmah bukan berarti senang dengan adanya orang seperti ini kita gak senang kita gak pingin terulang, makanya الله turunkan yang seperti ini untuk pelajaran untuk memperdalam Alqur'an. Karena Alqur'an petunjuk bagi manusia pembeda antara haq dan yang bathil, makanya mudah - mudahan dengan hikmah ini karena dengan kejadian ini الله inginkan kita dekat dengan qur'an, supaya gak ada lagi kasus yang berikutnya, karena fitnah fitnah ini akan terus bergulir, orang- orang yang menginjak qur'an akan makin banyak, maka tugas kita buktikan jangan sampai ada orang kafir yang menghina qur'an kembali, inshaallah Semoga الله berikan kemuliaan untuk bangsa ini , negeri ini ... Nasihatnya hanya satu berilmulah sebelum beramal العِلْمُ قَبْلَ العَمَلِ sehingga keimanan bisa stabil dan datang kemuliaan inshaallah.

Sunday, November 27, 2016

*Wanita..!! Allah itu tidak menghinakan kamu!* Kaum 'FEMINIS' bilang susah jadi wanita...

1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki. 2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya. 3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki. 4. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak. 5. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya. 6. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri. 7. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki. Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA". ❓Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)...? 1. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya...? 2. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak. 3. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggung-jawabkan terhadap 4 wanita: ▶ Isterinya ▶ Ibunya ▶ Anak perempuannya ▶ Saudara perempuannya 4. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya DITANGGUNG oleh 4 orang lelaki: ▶ suaminya ▶ Ayahnya ▶ Anak lelakinya ▶ Saudara lelakinya 5. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja: 》 Shalat 5 waktu 》 Puasa di bulan Ramadhan 》 Taat kepada suaminya 》 Menjaga kehormatannya ⭐ Masya ALLAH... ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita... !! ☁ KELEMAHAN WANITA ITU ADALAH: "Wanita selalu lupa betapa berharga dirinya" 💌 Kemuliaan Wanita... WANITA... Ia adalah makhluk yang mulia, di saat kecil memberi pahala besar untuk orang tuanya... Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda... Siapa yang memiliki dua saudari atau dua anak wanita, lalu ia berbuat baik kepada keduanya, maka aku dan ia di dalam surga seperti ini, beliau menggandengkan dua jarinya (HR Al Khathib) DISAAT MENJADI ISTRI... Ia menjadi ladang pahala untuk suaminya, mengangkatnya menjadi manusia terbaik... Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda... Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik untuk istrinya (HR Bukhari dan Muslim) KETIKA MENJADI IBU... Ia amat mulia dan haknya amat agung. Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda... Ibumu... Kemudian siapa? Ibumu... Kemudian siapa? Ibumu lalu bapakmu... (HR Bukhari) Wahai wanita... Sadarkah bahwa kalian makhluk yang mulia... Maka janganlah kamu campakan kemuliaanmu... Semoga Allah senantiasa menjagamu... ✏ Ditulis oleh Ustadz Badrusalam Lc

Syarat Pacaran Itu Ijab Qobul

Pembahasan cinta begitu cepat ‘naik daun’. Walaupun sebenarnya daun itu tidak bisa dinaiki. Seakan tiada henti, pembahasan tentang cinta selalu menghantui halaman-halaman media sosial. Nah, pernahkah Anda merasakan cinta? Cinta itu kasih sayang, loh? So, mengapa bersusah payah mencari cinta sejati, toh, selama ini ada yang mencintaimu dengan setulus hati, siapa lagi kalau bukan kedua orang tuamu sendiri. Cinta itu anugerah? Iya. Betul sekali! Tetapi cara mencari dan mendapatkannya yang perlu diluruskan. Kenapa? Tentu saja sangat jauh dari ajaran agama Islam. Seperti seseorang mendapatkan cintanya ketika saling PDKT-an. Setelah kenal lama, akhirnya pacaran. Baru menjalani lima bulan, terasa sudah banyak kekurangan bahkan perbedaan. Sering bertengkar, seakan problem rumah tanggaan. Padahal baru pacaran, belum juga halal. Dan akhirnya mereka putus. Coba bayangkan, berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan? Waktu dikorbankan, eh, ternyata tidak sampai ke pernikahan. Sungguh menyedihkan, bukan? Ada lagi kasus lain. Cari cinta di jalanan. Pakai kendaraan, rayu anak kos-an. Setelah jadian–hamil dua bulan. Nanti punya anak, bejatnya nggak karuan. Lha, yang begini cinta apa namanya? Lebih baik tidak usah dibahas! Contohlah baginda Rasulullah. Mencintai seseorang karena Allah. Mempunyai keluarga sakinah, mawaddah dan warrahmah. Hidup terarah. Tegar memegang dan menyampaikan amanah. Surga pun dijanjikan oleh Allah. Pria, apabila mencintai seorang wanita jangan tanggung-tanggung. Jika merasa sudah ‘mapan’ (modal secukupnya, namun kesiapan jiwa aman), maka segerakanlah meng-khitbah (melamar) si wanita. Jangan sampai di lain hari menyesal. Sebab melihat si calon bidadari duluan dipinang oleh seorang yang tak dikenal. Wah, kasihan tuh cintanya dibegal. Wanita juga, jangan terlalu galau jika belum ada pendamping hidup. Masih ada Ibu, Bapak dan adik-adik di rumah. Bersabarlah! Namun terkadang, wanita kudu memerhatikan pula tanda-tanda hari kiamat itu. Salah satunya, bertambah banyak jumlah wanita dan semakin mengurang jumlah pria. Oleh karenanya, dianjurkan bagi wanita untuk segera menikah. Demi menyempurnakan separuh iman yang telah diberikan oleh Allah. Survei menyatakan, wanita salehah itu lebih nyaman ditemani sama ‘sang mahram’, ketimbang ditemani orang lain. Betul nggak? Tetapi kekurangan wanita sekarang terlalu umbar aib. Kalau ditanya, “Mau mencari calon imam,” cetusnya. Padahal memilih busana saja belum tepat. Kerudung pendek, berbaju ketat. Dilapisi celana, seharusnya nutupi aurat. Eh … malah menambah dosa maksiat. Yang seperti ini, diharapkan segera bertaubat. Balik kepembahasan di atas, Memang, cinta adalah multivitamin buat diri. Dalam artian, dengan cinta–seseorang bisa tumbuh menjadi kuat atau pribadi yang hebat. Juga dengan cinta–bisa melemahkan hati atau jiwa yang sehat. Coba perhatikan wanita waktu lagi galau, kebanyakan karena cinta. Pria sama. Intinya saling berbenah diri. Generasi Islam anak bangsa bisa hancur cuma gara-gara cinta-cintaan. Orang pacaran bertebaran di mana-mana. Umbar aurat tampak jelas. Suruh beribadah sangat malas. Ini bertanda, Negara kita akan kandas–bablas! Apa belum tahu, syarat buat pacaran hanya dibolehkan setelah melaksanakan ‘ijab kabul’? Bukan seperti yang diinginkan oleh anak zaman modern sekarang. Belum tentu berfaedah, justru yang ada, dosa maksiat bertambah.

Kata Siapa Pacaran Itu Haram

Kita memang tidak lagi hidup di zaman Nabi. Bukan sedang berada di mimbar dakwah / masjid. Bukan sedang bersemayam di lingkungan santri. Namun, apakah aqidah mengenal batas teritorial? Apakah Al-Qur'an mengenal kadaluwarsa? Kawan, mau sejauh manapun zaman berubah. Mau secanggih apapun teknologi berkembang. Mau sepanjang apapun jalan kenangan. Mau semanis apapun rayuan setan. Pedoman kita tetaplah Al-Qur'an. Al-Qur'an yang tanpa revisi, edisi, amandemen atau hasil karya dari sejumlah pengarang. Ketahuilah, kita hanya miliki satu yang sama untuk semua. Lantas, karena ia pedoman, sumber kita ya itu dia. Sampai hadits sebagai tambahannya. Semua yang ada di dalamnya berarti mesti kita jalankan tanpa perlu banyak alasan. Termasuk yang satu ini, Wa laa taqrobuzzinaa innahu kaana faa hisyah, wasyaa’asyabiila “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al – Israa: 32) Kalau begitu, pertanyaan pada judulnya sudah terjawabkah? Ya harusnya begitu… Namun, Lah masih ada yang gak paham atau mungkin pura-pura gak paham. “Lah saya pacaran kan cuma status, gak ngapa-ngapain kok, apalagi berbuat zina.” “Pacaran kan hanya sekedar nama.” Memang benar kok, sebenarnya pacaran itu bukan “nama”nya yang salah. Tapi… ya perbuatannya itu yang jelas menjurus ke hal yang salah. Dalam KBBI, pacar artinya teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih; kekasih. Kata “yang tetap” penulis garis-bawahi karena rasanya kurang tepat apabila dikaitkan dengan kenyataan yang ada. Pada nyatanya, makhluk yang disebut ‘pacar’ oleh insan yang mengaku kekinian ini hanyalah hal yang fana. Betul begitu? So far, penulis agak sulit mencari sejarah dari mana asal kata ini muncul. Namun yang pasti, istilah pacaran ini telah berkembang begitu hebat melebihi kapasitas hebat itu sendiri. Bahkan beberapa oknum memperluas namanya menjadi berbagai nama, misalnya: pacaran islami. Tapi apapun namanya, kemaksiatannya tetap terjadi. Memang tidak semua, namun… Ah rasanya semua deh. Meskipun kau katakan “kami tidak ngapa-ngapain“, apa benar kalian bisa menahan untuk tidak smsan, chatingan? Apa benar kalian bisa menahan untuk tidak ketemuan dengan hati yang bergejolak bagai dentuman? Kawan, jika hal itu semua diperbolehkan. Lantas, apa makna dari zina mata, zina lisan, zina pendengaran, dan zina-zina lainnya yang turut beriringan? “Kami tidak pacaran, hanya saling jaga komitmen saja.” Nah… Nah… Ada lagi satu ini yang #maksabanget kayaknya. Menjaga komitmen. Hem boleh juga. (Boleh juga modusnya hehe) Kawan, yakinkah kalian tidak sering saling memikirkan? Tidak pernah berdua-duaan atau boncengan? Tidak pernah saling panggil dengan panggilan sayang? Ini sama saja. Sama-sama dekati zina. Cuma bedanya, yang satu terang-terangan depan orang, dan yang satunya lagi berupaya membungkusnya dengan sesuatu yang tidak terawang. Kawan, aku pernah mendengar bahwa komitmen hanya benar diakui saat khitbah (lamaran) dilaksanakan. Benar kan? Kamu sang bidadari, tidak ada doi berjanji suci sebelum benar ia berjabat tangan dengan ayahmu di hari akad pernikahan nanti. Dan kamu sang pangeran, tidaklah doi boleh kau pegangi sebelum terucap kata sah dari para saksi di hari akad nanti. “Tapi kak, selama bersama dia aku jadi rajin belajar, semangat sekolah, diingetin shalat, ngaji, dan sebagainya..” Nah loh. Hati-hati dalam berniat, luruskan niat. Kan qul inna sholatii wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil’alamiin“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan Semesta Alam.” (Q.S. Al An’am: 162). Jangan ada embel – embel tentang dia yang selalu mengingatkanmu menuju ketaatan. Kalau memang niatnya amar ma’ruf nahi mungkar, tak perlu ajak pacaran, kan menjadi “teman” pun cukup bisa untuk tetap saling mengingatkan? “Kalau gak pacaran, saya tersiksa dengan perasaan.” Wih… Dalem beneer.. Kawan, kau bilang katanya tak bisa menyangkal masalah perasaan. Namun bagaimana dengan sangkalanmu terhadap ketaatan? Relakah kau gadaikan ketaatanmu demi memuaskan asa yang semu? Pernah pepatah mengatakan “Jangan terlalu menggunakan perasaan, dahulukanlah ketaatan!” Maknanya tak lain adalah kita mesti selalu dahulukanlah Allah. Allah is the first of our priority list. Yakinlah hadiah atas kesabaran adalah pahala yang tak terkira, bukan sekedar kebahagiaan yang sementara. Bersabarlah… Tiada kata "sayang" selagi akad belum terlaksana Tiada sapa cintaku-sayang selagi mahar belum terbentang Tiada panggil umi-abi selagi kata “sah” belum terbisiki Jadi, kata siapa pacaran itu haram? Ya… Kata pedoman (Al-Qur'an & Al-Hadits) Tapi, sebenarnya.. pacaran boleh kok. Asalkan… Sudah halal alias menikah dan sah secara agama. (Hey… Ini bukan lagi soal tawar-menawar. Ini tuntutan pedoman. Hehe) “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka menikahlah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan, maka siapa saja yang belum mampu baginya, berpuasalah. Karena sesungguhnya berpuasa itu baginya adalah perisai.” (H.R. Bukhari, Muslim) Wallahu A'lam (dakwatuna.com)

Adab - Adab Pergaulan Dalam Islam

🌷Pertama, hendaknya setiap muslim menjaga pandangan matanya dari melihat lawan jenis secara berlebihan. Dengan kata lain hendaknya dihindarkan berpandangan mata secara bebas. Perhatikanlah firman Allah berikut ini, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS. 24:30) Awal dorongan syahwat adalah dengan melihat. Maka jagalah mata ini agar terhindar dari tipu daya syaithan. Tentang hal ini Rasulullah bersabda, “Wahai Ali, janganlah engkau iringkan satu pandangan (kepada wanita yang bukan mahram) dengan pandangan lain, karena pandangan yang pertama itu (halal) bagimu, tetapi tidak yang kedua!” (HR. Abu Daud). 🌷Kedua, hendaknya setiap muslim menjaga auratnya masing-masing dengan cara berbusana islami agar terhindar dari fitnah. Secara khusus bagi wanita Allah SWT berfirman, Dan Katakanlah kepada perempuan-perempuan Yang beriman supaya menjaga pandangan mereka (daripada memandang Yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali Yang zahir dari padanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya Dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau bapa mereka atau bapa mertua mereka atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi saudara-saudara mereka Yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka Yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang-orang lelaki Yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak Yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa Yang tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Wahai orang-orang Yang beriman, supaya kamu berjaya. (An-Nuur : ayat 31). Batasan aurat bersama bukan mahram (ajnabi) 1. Lelaki – antara pusat ke lutut 2. Wanita – seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan • Berpakaian sopan menurut syara’, yaitu tidak tipis sehingga menampakkan warna kulit, tidak ketat sehingga menampakkan bentuk badan dan kerudung dipanjangkan melebihi dada. Tidak salah berpakaian asalkan menepati standar pakaian Islam. • Maknai pemakaian busana untuk sholat Sebagaimana kita berpakaian sempurna semasa mengadap Allah, mengapa tidak kita praktikkan dalam kehidupan di luar? Sekiranya mampu, bermakna solat yang didirikan berkesan dan berupaya mencegah kita daripada melakukan perbuatan keji dan mungkar. • Jangan memakai pakaian yang tidak menggambarkan identitas kita sebagai seorang Islam. Hadith Nabi SAW menyebutkan : “Barangsiapa yang memakai pakaian menjolok mata, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan di hari akhirat kelak..” ( Riwayat Ahmad, Abu Dawud, An-Nasai dan Ibnu Majah) Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan juga kepada istri-istri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. 33: 59) 🌷Ketiga, tidak berbuat sesuatu yang dapat mendekatkan diri pada perbuatan zina (QS. 17: 32) misalnya berkhalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis yang bukan mahram. Nabi bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah berkhalwat dengan seorang wanita (tanpa disertai mahramnya) karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaithan (HR. Ahmad). 🌷Keempat, menjauhi pembicaraan atau cara berbicara yang bisa ‘membangkitkan syahwat’. Arahan mengenai hal ini kita temukan dalam firman Allah, “Hai para istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti perempuan lain jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara hingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf.” (QS. 33: 31). Berkaitan dengan suara perempuan Ibnu Katsir menyatakan, “Perempuan dilarang berbicara dengan laki-laki asing (non mahram) dengan ucapan lembut sebagaimana dia berbicara dengan suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3) Wahai isteri-isteri Nabi, kamu semua bukanlah seperti perempuan Yang lain kalau kamu tetap bertaqwa. oleh karena itu janganlah kamu berkata-kata Dengan lembut manja (semasa bercakap Dengan lelaki asing) kerana Yang demikian boleh menimbulkan keinginan orang Yang ada penyakit Dalam hatinya (menaruh tujuan buruk kepada kamu), dan sebaliknya berkatalah Dengan kata-kata Yang baik (sesuai dan sopan). (Al-Ahzaab : 32). Melembutkan suara berbeda dengan merendahkan suara. Lembut,mendayu-dayu diharamkan, manakala merendahkan suara adalah dituntut. Merendahkan suara bermakna kita berkata-kata dengan suara yang lembut, tidak keras, tidak meninggi diri, sopan dan sesuai didengar oleh orang lain. Ini amat bertepatan dan sesuai dengan nasihat Luqman AL-Hakim kepada anaknya yang berbunyi :“Dan sederhanakanlah langkahmu semasa berjalan, juga rendahkanlah suaramu (semasa berkata-kata), ' Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai” (Surah Luqman : ayat 19). Penggunaan perkataan yang baik ini perlu dipraktekkan dalamkeseharian kita baik secara langsung tidak langsung , contohnya melalui SMS, Yahoo Messengger ataupun apa yang ditulis di dalam Facebook karenanya menggambarkan keperibadian penuturnya. Allahu A'lam

Muhasabah Diri

Bang, aku tuh udah mau putus. tapi takut nyakitin hati doi! # Kok kita gak tega nyakitin hati orang lain, tapi begitu tega nyakitin diri sendiri? Teori sih gampang, tapi kenyataannya tuh susah banget ngelupain dia? # Gak perlu dilupain. Tinggal sibukkan diri aja dengan hal positif. kurangi komunikasi dan jauhi interaksi. Nanti juga lupa sendiri. Tapi aku tuh udah janji akan setia sama dia? # Jangan takut, janji dalam kemungkaran itu nggak berlaku. Tak ada ketaatan pada makhluk dalam rangka kemungkaran pada khaliq (Sang Pencipta) Kalau aku sih nggak pernah jalan bareng, cuma sms ngingetin supaya tahajud, tilawah quran, sambil nyisipin do'a agar bisa berjodoh. # Ati-ati. Itu modus juga. Takutnya kita ibadah cuman buat dikatakan soleh sama si doi. Nanti kalau nggak jodoh bisa-bisa tahajud dan ibadahnya malah nggak diterusin. Terus gimana dong biar bisa nyalurin perasaan cinta yang bergejolak? # Nikah aja, lebih tentram. Belum siap nikah, terus gimana dong? #Kata Rasulullah, perbanyak shaum (puasa) Selamat move up Sahabatku. Yakinlah, jomblo dalam ketaatan lebih indah daripada bersama dalam kemaksiatan. Setujuu...???

Tips Sukses Berta'aruf

Taaruf... Istilah ini semakin populer saja sekarang. Sebenarnya arti dari taaruf ini adalah perkenalan namun sekarang populer dengan istilah sebuah proses sebelum khitbah / lamaran. Alhamdulillah... Semoga ini baik... InsyaAllah... Taaruf... Sebuah istilah yang sekarang orang awam pun sudah tahu. Kalau dahulu istilah ini hanya beredar di kalangan aktivis Islam, tetapi sekarang sudah tidak asing dikalangan orang awam... Alhamdulilah... Semoga ini baik... InsyaAllah Menurut pengalaman kami dalam mengelola forum taaruf, banyak ikhwan atau akhwat yang ternyata belum mempersiapkan diri secara maksimal & benar, baik sebelum maupun selama proses taaruf sehingga "gagal" dalam bertaaruf. Berikut ini beberapa tips sukses bertaaruf yang kami kami ringkas semoga bermanfaat. 1. Meluruskan Niat Hanya Mengharap Ridha Allah Ta'ala. Dengan niat yang lurus insyaAllah Allah kan memudahkan kita dalam proses taaruf. 2. Mengkondisikan Keluarga - memahamkan keluarga tentang proses ta'aruf yang Islami. Ada beberapa kasus, proses taaruf gagal karena keluarga pihak akhwat atau keluarga pihak ikhwan belum di faham kan tentang proses ta'aruf yang Islami. Maka saran kami, mulai dari sekarang ikhwan maupun akhwat sudah mulai mengenal kan keluarga terutama orangtua tentang proses ta'aruf yang Islami sehingga ketika terjadi proses taaruf tidak ada pertentangan dari pihak keluarga. Sedikit tips dari kami, siapkan bahan bacaan bertema taaruf, taruh bacaan tersebut ditempat umum dirumah sehingga bisa dijangkau oleh orang tua. Kemudian ajak orang tua untuk berdiskusi masalah taaruf. 3. Mencari Calon dengan Cara yg Islami - Minta tolong perantara ; Ustadz, teman, kakak atau keluarga. Usahakan cari perantara yang faham agama dan adil obyektif dalam menilai. - Mencari sendiri ; Hati2 jebakan syetan, jaga adab2 pergaulan Islami. Banyak kami dapati kasus, ikhwan atau akhwat yang bertaaruf secara 'mandiri' tetapi dalam pergaulan, mereka tidak ada bedanya dengan pacaran. Misal, chatting di fb atau bbm bisa berjam-jam sampai tengah malam, berkomunikasi dalam hal-hal yang tidak penting dll. - Pilihlah Calon yang Baik Agamanya Ini adalah kriteria yang paling utama dari kriteria yang lain. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun menganjurkan memilih istri yang baik agamanya, hal ini berlaku juga dalam memilih suami : “Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda ; “Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi) Jika demikian, maka ilmu agama adalah poin penting yang menjadi perhatian dalam memilih pasangan. 4. Proses Pengenalan Sicalon - Mencari tahu dari sahabat, teman, saudara atau orangtuanya - Nadhor / bertatap muka langsung ditemani perantara. Dalam nadhor ini pihak ikhwan maupun akhwat diperbolehkan berdiskusi berbagai hal yang dirasa penting. Nadhor boleh dilakukan beberapa kali sampai ditemukan kemantapan dari masing-masing pihak. 5. Shalat Istikharah - Shalat istikharah ini tidak berarti kita lantas menyuruh Allah memilihkan & kita cukup berdoa saja & menunggu petunjuk sembari berpangku tangan. Tetapi setelah melalui analisa, penyelidikan, musyawarah dll agar Allah memberikan kekuatan & tidak salah pilih. Terkadang bisa jadi Allah memudahkan langkah kita dalam proses taaruf setelah shalat istikharah sehingga itu menjadi pertanda bahwa si dia adalah jodoh, namun hal tersebut tidak bisa dijadikan hal yang mutlak. 6. Mengenalkan Calon Kepada Orangtua - Memberikan gambaran yang obyektif tentang calon kepada orangtua. Orangtua pastinya menginginkan yang terbaik bagi anaknya maka berikanlah gambaran yang realistis kepada orangtua. 7. Khitbah / Lamaran - Setelah proses taaruf dirasa cukup dan masing-masing pihak mantap maka segera saja laksanakan khitbah / lamaran. Khitbah adalah ajuan lamaran dari pihak calon suami kepada wali calon istri yang intinya mengajak untuk berumah tangga. Khitbah itu sendiri masih harus dijawab iya atau tidak. Bila telah dijawab ia, maka jadilah wanita tersebut sebagai ‘makhthubah’, atau wanita yang telah resmi dilamar. Secara hukum dia tidak diperkenankan untuk menerima lamaran dari lelaki lain. Namun hubungan kedua calon itu sendiri tetap sebagai orang asing yang diharamkan berduaan, berkhalwat atau hal-hal yang sejenisnya. Dalam Islam tidak dikenal istilah setengah halal lantaran sudah dikhitbah. Dan amat besar kesalahan kita ketika menyaksikan pemandangan pasangan yang sudah sudah berkhitbah, lalu beranggapan bahwa mereka sudah halal melakukan hal-hal layaknya suami istri di depan mata, lantas diam dan membiarkan saja. Apalagi sampai mengatakan, “Ah biar saja, toh mereka sudah khitbah, kalo terjadi apa-apa, sudah jelas siapa yang harus bertanggung-jawab.” Padahal dalam kaca mata Islam, semua itu tetap terlarang untuk dilakukan, bahkan meski sudah melamar, hingga sampai selesainya akad nikah. Sikap yang benar adalah menjaga pergaulan Islami. Berkomunikasi dan bertemu kalau hal tersebut benar-benar penting dan mendesak, hindari juga berkhalwat (berdua-duaan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: لا يخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما “Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban [lihat Shahih Ibnu Hibban 1/436], At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awshoth 2/184, dan Al-Baihaqi dalam sunannya 7/91. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 1/792 no. 430) ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يخلون بامرأة ليس معها ذو محرم منها فإن ثالثهما الشيطان “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahrom wanita tersebut, karena syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad dari hadits Jabir 3/339. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Gholil jilid 6 no. 1813) Allahu A'lam